1st Winner – Duta Bahasa Binus 2026, BINUS University

Cindy Baby Gracia Kustiawan Adinata – 2902671524– Business management
Sampir Ketulusan: Perjalanan Melampaui Ragu Menjadi Terbaik 1 Duta Bahasa BINUS 2026
Semua ini bermula dari sebuah langkah kecil yang gemetar. Di tengah usia yang masih sangat muda, keraguan sempat membisik di telinga saya, “Apakah aku cukup mampu?” Namun, di balik keraguan itu, ada doa ibu dan dukungan keluarga yang menjadi fondasi keberanian saya. Berkat mereka, saya berani melangkah. Saya mulai menyelami setiap jejak para pendahulu, mencari tahu tentang alumni 2025, hingga mata saya tertuju pada sosok Kak Grace, Duta Bahasa Favorit 2025. Pengalamannya yang memukau benar-benar membuat saya terpesona dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi kampus tercinta, BINUS Bekasi.
Perjalanan pun bergulir. Tak disangka, saya lolos tahap formulir dan video perkenalan. Di sebuah sesi berbagi (sharing session), dunia saya terbuka lebar saat bertemu dengan kakak-kakak hebat yang memiliki segudang prestasi menakjubkan seperti Kak Ghea, Kak Naila, Kak Diana, Kak Asha, dan Kak Juan. Di sana pula, saya bertemu langsung dengan Kak Grace yang aslinya jauh lebih cantik, lembut, dan manis, serta Kak Anggi yang begitu perhatian dan baik hati, sosok yang kemudian menjadi pendamping setia kami selama kompetisi. Dari mereka, saya belajar bahwa kecantikan sejati terpancar dari kerendahan hati dan dedikasi.

Waktu seleksi finalis tiba di BINUS Kemanggisan. Meski tes wawancara dan UKBI terasa sangat menegangkan, suasana kekeluargaan yang diciptakan oleh teman-teman dari Bekasi, Alam Sutera dan Kemanggisan membuat kegugupan itu mencair. Saat pengumuman lolos tahap selanjutnya tiba, rasa syukur saya membuncah. Persiapan demi persiapan saya lakukan, mulai dari riset mendalam hingga pembekalan melalui Zoom bersama para pemateri luar biasa Bu Rahmi, Bu Lifia, Kak Raihan, dan Kak Michelle. Serta Kak Rizga dan Kak Marelda yang memeriahkan acara. Di sela kesibukan kuliah dan UKM, saya berjuang menciptakan inovasi video kampanye kebahasaan. Di saat-saat penuh kegelisahan karena takut mengecewakan harapan orang-orang yang mendukung saya, sahabat saya, Athallah, hadir menenangkan pikiran saya. Bersamanya, lahirlah inovasi Krida “CABE CERI” (Cantik Berbahasa, Cerdas Berisyarat). Saya juga sangat berterima kasih kepada Atha, Reia, dan teman-teman di B-Preneur yang telah membantu saya tanpa lelah.

H-1 Final Raya menjadi puncak ujian fisik dan mental. Kami melalui empat tahap seleksi lagi yang sangat ketat. Dengan kostum Roro Jonggrang dan materi presentasi yang sudah saya siapkan dengan konsistensi tinggi, saya berusaha tampil totalitas di depan dewan juri. Di tengah ketegangan itu, momen makan siang bersama teman-teman finalis menjadi kenangan yang paling saya rindukan. kami tertawa dan saling menguatkan, seolah lupa bahwa kami sedang berkompetisi. Sore harinya, saat gladi kotor, meski saya dan Kak Ghea harus merasakan rasa sakit karena kondisi badan yang menurun, kami tetap bertahan hingga langit menggelap, kami pulang bersama Pak Bambang menuju Bekasi dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Hari yang dinanti pun tiba. Pagi-pagi buta saya sudah bersiap, menembus kantuk di shuttle bus menuju Kemanggisan. Suasana ruang menunggu dan bersiap menjadi sangat hangat dan ceria saat lagu-lagu Taylor Swift dan lagu timur yang saya putar mencairkan ketegangan. Kami saling membantu memoles riasan dan mengenakan baju daerah, didampingi oleh Ibu dosen dan Kak Anggi. Saat gladi bersih, suara merdu Widya, Tony, dan Lukas seolah memberi energi tambahan. Kehadiran mami dan kakak perempuan saya dengan buket bunga pink di antara penonton membuat hati saya terasa penuh. Tepat pukul 13.00, saat lampu auditorium padam dan Widya mulai bernyanyi, kami melangkah ke atas panggung. Genggaman tangan kami terasa erat, menari dalam harmoni yang energik, menyatu dengan binar lampu sorot yang magis.

Ketegangan mencapai puncaknya saat pengumuman 10 besar. Mendengar nama saya disebut, saya melihat orang tua dan kakak saya berteriak bangga dari kejauhan. Di tahap tanya jawab, saya mendapatkan nomor 8. Saya menjawab pertanyaan juri dengan tegas dan jelas, membawa lega di dada. Saat pengumuman pemenang dimulai, saya sudah merasa ikhlas. Namun, sebuah keajaiban menyapa, nama saya disebut bersama Kak Valerie sebagai calon Terbaik 1 dan 2. Kami berdiri berhadapan, saling menggenggam tangan dengan sangat erat, seolah mata kami berkata, “Siapapun yang menang, kita tetap bahagia.” Di mata saya, Kak Valerie adalah sosok yang sempurna dan sangat pantas untuk menjadi juara.
Hingga akhirnya, pewara menyebutkan nama saya sebagai Terbaik 1 Duta Bahasa BINUS 2026. Air mata kebanggaan jatuh tak terbendung. Saya memeluk erat Kak Valerie yang menyambut kemenangan saya dengan senyum termanisnya. Di atas panggung itu, saya menatap langit-langit auditorium dengan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT, keluarga, dan teman-teman semua. Kemenangan ini juga untuk KakRyan, Kak Valerie, Kak Tony, Kak Lukas, dan Kak Gaylendan seluruh Finalis Duta Bahasa Binus 2026 kalian semua luar biasa. Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian saya. Dengan komitmen penuh, saya akan melanjutkan perjalanan ini untuk menginspirasi generasi muda sesuai dengan Trigatra Bangun Bahasa. Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang siapa yang terhebat, melainkan tentang bagaimana kita merangkul proses dan tumbuh bersama sebagai keluarga.
Salam, aku cinta Bahasa Indonesia. 🙌🏻🇮🇩
Momen Lucu, Dibalik Anggunnya Langkah: Drama Heels dan Kaki Kram
Kalau orang melihat di panggung atau di foto promosi, mungkin semuanya terlihat sempurna dan sangat anggun. Tapi kalau boleh jujur, ada satu momen yang kalau diingat sekarang rasanya ingin tertawa sekaligus meringis yaitu perjuangan memakai heels! Setelah berdiri untuk sesi pemotretan, latihan koreografi, sampai bolak-balik wawancara, kaki saya mulai memberikan “sinyal” protes. Puncaknya adalah saat gladi bersih dan menuju final raya. Rasanya kaki ini sudah tidak sinkron lagi dengan otak, saya mulai jalan miring-miring seperti kepiting karena berusaha menahan keseimbangan.
Lucunya lagi, ada momen di mana kaki saya tiba-tiba kram di saat-saat yang paling tidak tepat! Bayangkan, saya harus tetap tersenyum manis dan menjaga postur tubuh tetap tegak di depan dewan juri dan penonton, padahal di dalam sepatu, jempol kaki saya sudah berteriak minta tolong karena kaku. Setiap kali melangkah, saya harus sangat berhati-hati agar tidak oleng. Melihat teman-teman lain yang ternyata juga mengalami “penderitaan” yang sama, kami cuma bisa saling lirik dan tertawa kecil di tempat duduk sambil memijat kaki masing-masing.
Ternyata, menjadi Terbaik 1 itu butuh perjuangan bukan cuma soal otak dan lisan, tapi juga soal ketahanan otot kaki menahan beban heels yang tingginya luar biasa! Momen jalan miring-miring itu jadi bumbu paling kocak yang membuat kenangan Duta Bahasa ini terasa sangat hangat dan tak terlupakan.

Comments :