Mengenal Piramida Rape Culture: Hal yang Dianggap Bercanda Sampai Jadi Kekerasan

Kalian pasti sering mendengar kalimat “Cuma bercanda kok”. Entah itu ketika ada teman yang melontarkan candaan seksual, mengomentari tubuh orang lain, atau membuat lelucon yang sebenarnya membuat seseorang merasa tidak nyaman. Karena dianggap sebagai candaan, kita sering kali memilih untuk tertawa, diam, atau bahkan ikut menormalisasi. 

Tapi pernah nggak sih kita berpikir, kenapa banyak orang yang bisa mewajarkan hal-hal yang sebenarnya membuat orang lain tidak nyaman, dan hanya dianggap sebagai bentuk candaan? 

Di sinilah konsep rape culture perlu untuk dipahami, terutama di lingkungan perguruan tinggi. 

Apa Itu Rape Culture?
Mungkin beberapa orang sudah ada yang pernah mendengar mengenai rape culture, namun banyak juga yang belum mengetahuinya. Mari kita bahas mengenai rape culture, rape culture bukan berarti budaya yang ‘mendukung pemerkosaan’. Rape culture merupakan istilah yang merujuk pada kondisi sosial di mana perilaku, candaan, norma, dan atau pandangan tertentu dapat dinormalisasi.

Contohnya seperti apa sih? Banyak contoh kecil yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti candaan seksual yang dianggap lucu, komentar tentang tubuh  seseorang dianggap normal, korban disalahkan atas pakaian yang dipakai, seseorang yang melakukan pelecehan justru dibela dengan berbagai alasan. 

Yang menjadi masalah adalah ketika segala perilaku ini mulai dianggap normal, menyebabkan tak terlihatnya batas mengenai apa yang pantas dan tidak pantas. 

Mengenal Piramida Rape Culture
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memahami bagaimana rape culture dapat terjadi, yaitu melalui rape culture pyramid atau piramida rape culture

Piramida rape culture itu seperti apa? Bayangkan ada sebuah piramida, di bagian paling bawahnya terdapat perilaku atau pemikiran yang mungkin terlihat kecil atau sepele. Semakin ke bagian atas, bentuknya semakin mengerucut dan tajam, hingga bisa menjadi kekerasan seksual. 

Di bagian bawah, kita bisa menemukan adanya stereotip gender, candaan seksual, objektifikasi, victim blaming, hingga normalisasi perilaku yang melecehkan. Sementara di bagian atas ada bentuk kekerasan seksual yang lebih serius. 

Hal penting yang perlu dipahami dari piramida ini ini adalah setiap candaan seksual tidak berarti akan berujung pada kekerasan seksual. Namun, ketika sebenarnya perilaku yang bermasalah terus-menerus dibiarkan dan dianggap normal, maka akan terbentuk lingkungan di mana ketika perilaku atau tindakan yang lebih serius terjadi lebih mudah ditoleransi. 

Misal, ketika ada seseorang yang berkomentar “Perempuan seharusnya memakai pakaian yang sopan dan tertutup” terus berulang, kita bukan hanya mendengar sebuah opini, namun pembentukan pola pikir. Jika pola pikir tersebut digunakan di dalam sebuah lingkungan untuk membenarkan tindakan seseorang dan menyalahkan korban, hal tersebut dapat membuat terbentuknya lingkungan yang membuat korban merasa bahwa mereka harus bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi pada dirinya. 

“Kan cuma bercanda” — Apakah Sesederhana Itu?
Di lingkungan kampus, candaan dan interaksi menjadi bagian dari kehidupan. Namun, yang banyak tidak disadari bahwa bercanda memiliki batasan. Ketika candaan mulai mengandung unsur seksual, merendahkan bagian tubuh seseorang, menyentuh tanpa persetujuan, menyebarkan foto pribadi, atau membuat seseorang merasa terintimidasi, maka kita perlu berhenti dan mulai mempertanyakan “apakah ini ini benar-benar lucu dan dianggap candaan?”

Seseorang yang tertawa belum tentu merasa nyaman, yang diam bukan berarti setuju, dan seseorang yang tidak menolak bukan berarti memberi izin. Oleh karena itu, penting untuk kita tidak hanya melihat niat pelaku, namun juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap orang lain. 

Hubungannya Sama Kampus Apa Sih?
Kampus seharusnya menjadi tempat untuk belajar, berkembang, berorganisasi, serta membangun relasi yang aman. Oleh karena itu, kita sebagai bagian dari civitas akademika harus bisa menciptakan lingkungan kampus yang aman dari segala bentuk kekerasan, karena kita semua memiliki peran. 

Upaya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman juga erat hubungannya dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT). Keberadaan Satgas PPKPT tidak hanya berperan ketika kasus sudah terjadi, tetapi juga membangun kesadaran warga kampus mengenai perilaku yang berpotensi menjadi kekerasan dan bagaimana cara menciptakan lingkungan yang aman. 

Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa jika mengetahui, melihat, atau mengalami adanya dugaan kekerasan, kalian dapat mencari bantuan atau melaporkannya kepada Satgas PPKPT di kampus kalian. 

Hal yang Sering Dianggap Sepele
Piramida rape culture mengingatkan kita bahwa budaya tidak terbentuk dalam satu hari. Hal tersebut terbentuk dari berbagai perilaku, nilai, dan kebiasaan yang terus diulang. Kita harus melakukan perubahan dimulai dari hal-hal yang sederhana. 

Ketika ada candaan yang mulai melewati batas, kita jangan ikut tertawa tapi bisa ikut menghentikan dan mengingatkan. Ketika melihat teman menjadi korban pelecehan, kita bisa menjadi emotional support korban daripada menyalahkannya. Ketika melihat perilaku yang tidak pantas, kita bisa memilih untuk bertindak alih-alih diam saja. 

Untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman bukan tentang apa yang kita lakukan ketika kekerasan sudah terjadi, tetapi juga pilihan untuk tidak menormalisasi sejak awal. Pada akhirnya pertanyaannya bukan hanya “Ini cuma bercanda kan?”, tetapi “Apakah candaan ini sudah mengganggu kenyamanan orang lain?”. Kalau jawabannya tidak, itu artinya sudah waktunya kita untuk berhenti menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. 

Sebagai mahasiswa, tentu kita tidak bisa mengontrol tindakan atau perilaku orang lain. Tetapi, kita bisa menentukan bagaimana kita bersikap ketika melihat adanya sesuatu yang tidak benar. Jangan biarkan sampai kekerasan terjadi untuk mulai peduli, jangan menunggu sampai ada atau  menjadi korban untuk bisa percaya, dan jangan membenarkan sesuatu sebagai “hal biasa” karena kita sudah sering melihatnya. 

Lingkungan kampus yang aman tidak hanya terbentuk dari aturan, tetapi juga dari keberanian untuk menormalisasi adanya kekerasan. Mari mulai dari diri sendiri, dari cara kita berbicara, memperlakukan orang lain, dan merespons ketika ada hal yang salah. 

Karena setiap tindakan kecil memiliki makna. 

Referensi:
Departement of Communications Universitas Islam Indonesia. (2026, May 4). Ask the Expert: “Rape Cultyre Pyramid” Candaan Seksis yang Disepelekan. Departement of Communications. https://communication.uii.ac.id/tag/rape-culture-pyramid/

Intan Kusumadewi