Sexual Double Standard: Perilakunya Sama, Tapi Kok Penilaiannya Bisa Beda?
Pernah nggak sih kamu melihat atau ada pada situasi di mana seorang laki-laki dianggap “jago” karena pernah dekat dengan banyak orang, sementara di sisi lain ketika perempuan melakukan hal yang serupa seringkali mendapatkan komentar negatif. Atau ketika laki-laki menangis dianggap tabu dan tidak pantas karena seorang laki-laki harus kuat dan tidak cengeng sementara bagi perempuan menangis adalah hal yang lumrah dan wajar.
Kalau dipikir-pikir, yang dilakukan sama, tapi respon yang diberikan berbeda.
Adanya perbedaan penilaian ini sebenarnya tidak hanya merugikan salah satu gender. Pada beberapa situasi, perempuan sering mendapat stigma yang lebih berat. Namun, pada situasi lain, laki-laki pun kerap menghadapi tekanan karena harus memenuhi gambaran tertentu mengenai bagaimana “seharusnya” menjadi seorang laki-laki. Pada akhirnya, keduanya dibatasi oleh stereotip yang sudah berkembang di masyarakat.
Tahu nggak sih kamu bahwa ini merupakan sebuah fenomena di masyarakat? Fenomena ini disebut dengan sexual double standard, yaitu sebuah penilaian yang berbeda terhadap perilaku seksual dan romantis berdasarkan pada gender seseorang. Secara sederhana, tindakan yang dilakukan yang dianggap wajar, keren, atau diapresiasi ketika dilakukan oleh satu gender, tapi ketika dilakukan oleh gender lain dianggap negatif.
Meskipun isu ini sudah lama dibahas, penelitian menunjukkan bahwa sexual double standard masih ditemukan dalam berbagai lingkungan sosial, termasuk di kalangan remaja dan mahasiswa. Bentuknya mungkin tidak selalu terlihat jelas, tetapi dampaknya masih dapat dirasakan hingga saat ini.
Kok Bisa Sih Ada Standar yang Berbeda?
Siapa sih yang membuat aturan seperti ini? Kalau ditanya siapa yang membuat aturan ini, ya nggak ada. Tidak ada seorang atau kelompok tertentu yang menetapkan aturan ini. Standar tersebut ada karena terbentuk dari berbagai norma sosial, budaya, dan cara pandang yang berkembang selama bertahun-tahun.
Sejak kecil, banyak orang tumbuh dengan pesan seperti:
“Cowok harus berani”
“Cowok nggak boleh cengeng”
“Cewek harusnya jaga image”
“Cewek jangan terlalu agresif”
“Laki-Laki terlalu lembut itu aneh”
“Perempuan yang terlalu vokal itu dianggap galak”
Pesan-pesan seperti itu mungkin terdengar sederhana dan biasa aja, tetapi lama-kelamaan dapat membentuk konstruk sosial yang memberikan ekspektasi tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, mereka sering kali mendapat komentar, ejekan, bahkan penilaian negatif, meskipun perilaku yang dilakukan sebenarnya tidak salah.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Endendijk, van Baar, dan Deković (2020), meskipun masyarakat semakin terbuka terhadap kesetaraan gender, bentuk-bentuk sexual double standard masih terus ditemukan dalam berbagai konteks sosial. Dapat diartikan, norma tersebut belum sepenuhnya hilang, hanya saja sering muncul dalam bentuk yang lebih halus dibandingkan sebelumnya.
Bentuk Sexual Standard yang Sering Ditemui
Sexual double standard tidak selalu terjadi dalam bentuk yang berlebihan, justru sering terjadi dalam percakapan sehari-hari dan kerap dianggap hal yang biasa.
1. Label yang Berbeda, Pada Perilaku yang Sama
Bayangkan ada perilaku yang sama, sama-sama aktif menjalin hubungan atau dekat dengan banyak orang. Namun, seringkali laki-laki mendapatkan cap,
“Percaya diri”
“Berpengalaman”
“Populer”
Sementara, jika hal tersebut dilakukan oleh perempuan, maka akan mendapat cap,
“Murahan”
“Terlalu genit”
“Mencari perhatian”
Padahal, perilaku yang mereka lakukan, sama. Hanya saja berbeda gender. Sebaliknya, laki-laki yang tidak aktif menjalin hubungan atau belum memiliki pengalaman romantis juga sering mendapat label “kurang laku”, “nggak jantan”, atau dianggap kurang maskulin. Artinya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama dapat menerima penilaian berdasarkan stereotip, bukan berdasarkan siapa diri mereka sebenarnya.
2. Ekspresi Diri Masih Diukur dari Gender
Di masyarakat, masih banyak aktifitas atau kegiatan yang dianggap “khusus” untuk gender tertentu, misalnya:
Menari
Ketika perempuan menyukai tari, masyarakat menganggapnya sebagai hal yang biasa. Namun ketika laki-laki memiliki hobi yang sama, masih ada komentar seperti,
“Kok cowok nari?”
“Nggak maskulin.”
Padahal menari adalah bentuk seni yang bisa dilakukan siapa saja, tanpa memandang gender.
Menangis
Hal serupa juga terjadi pada ekspresi emosi. Ketika perempuan menangis, orang menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Sebaliknya, laki-laki yang menangis justru sering mendengar komentar seperti,
“Cowok kok nangis?”
“Harus kuat”
“Jangan cengeng”
Akibatnya, banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kesedihan, padahal setiap orang memiliki emosi yang sama.
3. Ekspektasi yang Tidak Seimbang dalam Hubungan
Di lingkungan sekitar kita, masih banyak anggapan bahwa dalam hubungan harus selalu laki-laki yang mengambil langkah pertama, membayar saat date, dan menjadi sosok pemimpin dalam hubungan.
Sedangkan perempuan hanya diminta untuk menunggu, tidak terlalu menunjukkan ketertarikan, dan menjaga citra diri.
Ketika dalam lingkungan tersebut yang terjadi justru sebaliknya, maka akan ada komentar yang mempertanyakan mengenai sikap yang diambil, dan dianggap tidak normal.
4. Cara Masyarakat Menilai Korban Kekerasan Seksual
Salah satu dampak dari adanya sexual double standard adalah munculnya kecenderungan untuk menghakimi korban, terutama pada korban perempuan.
Misal, pada kejadian kekerasan seksual, pertanyaan yang sering muncul justru seperti:
“Dia pakai baju apa?”
“Kenapa nggak nolak?”
“Kenapa baru speak-up sekarang?”
Padahal tidak ada sama sekali pembenaran atas semua tindak kekerasan seksual, baik itu cara berpakaian, cara berbicara, ataupun aktivitas seseorang.
Namun, di sisi yang lain, laki-laki juga menghadapi stereotip yang berbeda ketika menjadi korban kekerasan seksual, masih banyak anggapan seperti:
“Masa laki-laki bisa jadi korban?”
“Harusnya laki-laki bisa melawan dong?”
Akibatnya, banyak laki-laki yang memilih diam ketika menjadi korban kekerasan seksual. Padahal, siapapun dapat menjadi korban kekerasan seksual, dan tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan tersebut.
Kenapa Sexual Double Standard Perlu Dibahas?
Mungkin sebagian orang ada yang berpikir
“Yaudah sih, itukan cuma opini orang”
Namun kenyataannya nggak sesimple “cuma”, adanya standar ganda ini bisa memengaruhi bagaimana cara orang melihat dirinya sendiri dan melihat orang lain.
Sexual double standard pada akhirnya sama-sama memberikan tekanan kepada laki-laki maupun perempuan, hanya saja bentuknya berbeda.
Perempuan sering menghadapi stigma ketika dianggap terlalu aktif, terlalu terbuka, atau tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat mengenai “perempuan yang baik”.
Di sisi lain, laki-laki juga menghadapi tekanan untuk selalu terlihat kuat, berani, dominan, tidak boleh menangis, serta harus memenuhi standar tertentu tentang maskulinitas.
Akibatnya, banyak orang merasa harus menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial, bukan menjadi diri sendiri.
Sebagai mahasiswa, kita hidup di lingkungan yang penuh dengan interaksi sosial, pertemanan, organisasi, hingga hubungan romantis. Karena itu, penting untuk kita untuk mulai lebih kritis terhadap cara kita menilai orang lain.
Coba tanyakan pada diri kalian:
- Apakah saya akan memberikan penilaian yang sama jika pelakunya dari gender yang berbeda?
- Apakah saya sedang menilai perilakunya atau justru gendernya?
- Apakah komentar yang saya berikan berangkat dari fakta atau dari stereotip yang sudah lama saya dengar?
Kesadaran sederhana seperti ini dapat membantu kita membangun lingkungan kampus yang lebih inklusif, saling menghargai, dan bebas dari stigma yang merugikan.
Karena pada akhirnya, seseorang seharusnya dinilai dari sikap, perilaku, dan tanggung jawab yang ditunjukkannya, bukan berdasarkan standar yang berbeda hanya karena gendernya.
Referensi:
Endendijk, J. J., van Baar, A. L., & Deković, M. (2020). He Is a Stud, She Is a Slut! A Meta-Analysis on the Continued Existence of Sexual Double Standards. Personality and Social Psychology Review, 24(2), 166–167.