Kenapa Banyak Korban Kekerasan Baru Sadar Setelah Bertahun-Tahun?

“Kalau memang itu kekerasan, kenapa baru cerita sekarang?”

“Kenapa baru sadar setelah bertahun-tahun?”

“Kalau memang nggak nyaman, kenapa waktu itu nggak langsung bilang?”

Pasti kamu pernah mendengar kalimat tersebut keluar setiap ada seseorang yang berani untuk bercerita tentang pengalaman kekerasan yang dialaminya bertahun-tahun lalu. Padahal, kenyataannya, nggak semua korban langsung menyadari atau mengungkap pengalaman tersebut, dan banyak juga korban yang tidak menyadari bahwa yang dialaminya adalah kekerasan. 

Fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa adanya jeda waktu yang panjang merupakan hal yang wajar. Karena korban kekerasan terkadang baru mampu memahami apa yang terjadi setelah beberapa tahun kemudian. Jadi, kalau ada yang baru speak up sekarang, bukan berarti mereka mengada-ada atau “terlalu lama diam”. Justru, ada banyak alasan kenapa proses itu bisa memakan waktu.

Yang Banyak Orang Tidak Sadar
Banyak orang yang membayangkan pelaku kekerasan dilakukan oleh orang asing yang tiba-tiba muncul. Padahal, kenyataannya, pelaku kekerasan seringkali dilakukan oleh orang terdekat, seperti pasangan, senior, atau anggota keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kasus melibatkan pelaku yang sudah dikenal korban.

Karena ada rasa percaya, sayang, atau hubungan yang dekat, korban sering kali dibuat menjadi bingung atau mempertanyakan. 

“Dia baik kok biasanya.”

“Masa sih dia tega?”

“Mungkin aku aja yang terlalu sensitif?”

Akhirnya, korban lebih sering menyalahkan diri sendiri daripada mempertanyakan tindakan pelaku.

Trauma yang Tidak Disadari
Kalau di film, mungkin kamu lebih sering melihat korban langsung sadar dan bertindak. Namun, di dunia nyata, yang banyak terjadi justru kebalikannya, otak tidak selaras dengan tindakan. 

Ketika mengalami peristiwa yang traumatis, reaksi yang sering muncul berupa syok, mati rasa, disosiasi, hingga terpecahnya ingatan, hal ini merupakan respons yang umum terjadi pasca trauma. Penelitian menjelaskan bahwa korban sering mengalami kecemasan, pikiran yang tidak terorganisir, mati rasa emosional, hingga kesulitan mengingat kejadian secara utuh.

Karena itu, bukan berarti korban “lupa” atau “mengarang cerita”. Justru, tubuh dan pikiran sedang berusaha melindungi diri dari pengalaman yang terlalu menyakitkan untuk diproses pada saat itu.

Makanya, ada orang yang baru beberapa tahun kemudian berkata,

“Eh, ternyata yang dulu aku alami itu bukan hal yang normal ya?”

Dan itu valid.

Tumbuh Dalam Mitos
Seseorang nggak sadar bukan karena mereka “nggak peka”, tapi yang mereka pahami yaitu bahwa kekerasan seksual harus disertai dengan kekerasan fisik atau dilakukan oleh orang asing.

Padahal kan nggak sesimple itu..

Kalau pelakunya pacar?

Kalau nggak ada luka?

Kalau korban nggak melawan karena takut atau freeze?

Kalau sebelumnya mereka kenal dekat?

Semua pertanyaan itu sering bikin korban berpikir, “Kayaknya ini bukan kekerasan deh.”

Penelitian menemukan bahwa korban yang tidak menyadari pengalamannya sebagai kekerasan cenderung tidak melapor dan sering menggambarkan pelaku sebagai orang yang “tidak terlalu agresif”, serta lebih banyak menyalahkan diri sendiri dibanding pelaku.

Rasa Malu dan Takut Tidak Dipercaya
Banyak korban memilih diam karena khawatir akan mendapat respons negatif. Mereka takut disalahkan, dianggap berlebihan, atau tidak dipercaya. Hambatan-hambatan seperti rasa malu, rasa bersalah, takut keluarga mengetahui, khawatir dianggap penyebab kejadian, serta ketakutan akan respons buruk dari lingkungan menjadi alasan yang terus ditemukan dalam berbagai penelitian selama puluhan tahun terakhir.

Tidak sedikit korban yang justru mengalami “kekerasan kedua” ketika menceritakan pengalamannya. Respons berupa menyalahkan, meragukan, atau menghakimi dapat memperparah luka psikologis yang sudah ada.

Diam Bukan Berarti Baik-Baik Saja
Penelitian menemukan bahwa korban yang tidak pernah mengungkapkan pengalaman kekerasannya cenderung mengalami lebih banyak gejala depresi dan stres pascatrauma. Ada pula kelompok yang disebut “slow starters”, yaitu mereka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya berani bercerita. Rata-rata kelompok ini baru melakukan pelaporan pertama sekitar 3,58 tahun setelah kejadian.

Dalam kasus kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, keterlambatan ini bahkan bisa mencapai lebih dari 11 tahun dan tidak jarang baru terungkap ketika korban telah dewasa.

Jadi, Kenapa Banyak Korban Baru Sadar Setelah Bertahun-Tahun?
Karena kesadaran terhadap kekerasan bukan hanya soal mengingat sebuah peristiwa, tetapi juga tentang bagaimana trauma diproses, bagaimana relasi dengan pelaku memengaruhi cara seseorang memandang pengalaman tersebut, dan bagaimana lingkungan merespons ketika seseorang berusaha untuk bercerita.

Tidak ada batas waktu kapan seseorang “seharusnya” sadar atau mengungkapkan pengalaman kekerasan yang dialaminya. Fakta bahwa seseorang baru mampu memahami dan menceritakan pengalamannya setelah bertahun-tahun bukan berarti peristiwa tersebut tidak nyata. Justru, itu menunjukkan bahwa proses pemulihan setiap orang berbeda.

Yang menjadi penting, ketika seseorang akhirnya berani berkata, “Sekarang aku sadar bahwa yang terjadi dulu adalah kekerasan,” respons pertama yang dibutuhkan bukanlah pertanyaan, “Kenapa baru sekarang?”, melainkan, “Terima kasih sudah berani bercerita. Apa yang bisa kami lakukan untuk mendukungmu?” 

Sebagai mahasiswa, kita mungkin tidak selalu berada di posisi korban, tetapi kita bisa menjadi teman, saksi, atau orang pertama yang mendengar cerita seseorang. Lingkungan kampus yang aman dimulai dari hal sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, tidak menyalahkan korban, dan memberikan dukungan ketika seseorang akhirnya berani bersuara. Karena setiap orang berhak untuk didengar dan dipercaya, kapan pun mereka siap untuk bercerita.

Referensi:
https://academicworks.cuny.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1211&context=jj_etds

Intan Kusumadewi