Yang Kelihatan Baik Belum Tentu Aman: Mari Kenali Bentuk Kekerasan Seksual di Kampus!

Kalau mendengar kata “kekerasan seksual”, apa yang ada di bayangan atau terlintas di kepala kamu?

Ketika mendengar istilah kekerasan seksual, banyak orang langsung membayangkan tindakan yang bersifat fisik atau terjadi secara terang-terangan. Padahal fakta di lapangan, kekerasan seksual bisa muncul dalam berbagai bentuk yang sering kali sulit untuk dikenali.

Bahkan, pada beberapa kasus kekerasan kerap dikemas dengan alasan “bercanda”, “cuma perhatian”, “mau membantu”, atau bahkan dianggap sebagai bagian dari budaya dan tradisi tertentu. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa perilaku tersebut sebenarnya sudah melewati batas dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Yang  membuat makin rumit, pelaku nggak selalu orang yang terlihat menyeramkan. Bisa jadi orang yang dikenal baik, dihormati, dekat dengan korban, atau bahkan dianggap sebagai sosok yang membantu.

Menurut Dziech dan Weiner (1990), terdapat beberapa pola atau bentuk kekerasan seksual yang dapat terjadi di lingkungan kampus. Memahami pola-pola ini penting agar mahasiswa dapat lebih peka terhadap situasi di sekitarnya dan memahami pentingnya menghormati batasan setiap individu.

1. Ketika Posisi atau Jabatan Digunakan untuk Menekan Orang Lain

Pernah dengar kalimat seperti:

“Kalau mau dibantu, harus ada balasannya.”

Padahal posisinya kamu sedang benar-benar membutuhkan bantuan, entah bimbingan, rekomendasi, atau akses ke suatu kesempatan. Lalu ada seseorang yang seolah menawarkan bantuan.

Tetapi bantuan itu ternyata disertai syarat yang nggak seharusnya ada. Entah itu memulai mengarah ke hubungan personal yang tidak diinginkan, meminta perhatian khusus, atau membuatmu merasa harus “membalas” kebaikannya dengan cara tertentu.

Dalam bentuk ini maka seseorang telah memainkan ketimpangan kekuasaan. Pelaku telah memanfaatkan posisi, wewenang, atau pengaruh yang dimilikinya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari orang lain.

Misalnya, seseorang menjanjikan bantuan, kesempatan tertentu, atau perlakuan khusus dengan syarat korban harus memenuhi keinginan yang tidak semestinya.

Masalahnya, situasi seperti ini sering menjadikan korban merasa tidak punya banyak pilihan karena adanya ketimpangan kekuasaan dan sulit untuk menolak.

Yang perlu diingat, bantuan, penilaian, kesempatan, atau hak seseorang tidak boleh dikaitkan dengan kedekatan personal atau tuntutan yang membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Kalau seseorang membuatmu merasa harus memilih antara “mengikuti keinginannya” atau “kehilangan kesempatan tertentu”, itu bukan hubungan yang sehat.

2. Berkedok Perhatian atau Bimbingan

Pasti menyenangkan jika setiap hari ada yang menanyakan kabar, sering menawarkan bantuan, selalu ada ketika dibutuhkan. Tentu, tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun, ada situasi ketika seseorang menggunakan kedekatan emosional untuk membangun kepercayaan secara berlebihan. Lalu, masalah muncul ketika perhatian itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang membuat seseorang kehilangan ruang pribadinya.

Misalnya, mulai sering menghubungi di luar konteks yang diperlukan.
Menuntut balasan pesan.
Membuatmu merasa bersalah ketika tidak merespons.
Yang perlu dipahami, tidak semua hubungan yang terlihat “hangat” selalu sehat.

Awalnya mungkin akan terasa biasa saja. Namun jika kedekatan tersebut mulai membuat seseorang merasa tidak nyaman, tertekan, atau muncul perilaku yang melewati batas profesional maupun personal, hal tersebut perlu diwaspadai.

3. Tradisi Organisasi

“Anak angkatan sebelumnya juga ngalamin kok.”
“Biar kompak.”
“Biar mentalnya kebentuk.”

Hal seperti itu kerap kali terdengar ketika ada kegiatan kampus, yang sering dianggap sebagai suatu “tradisi” organisasi.

Masalahnya, tidak semua tradisi itu harus dipertahankan.

Kegiatan kampus dan organisasi seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar, berkembang, dan membangun relasi yang sehat.

Namun dalam beberapa kasus, ada perilaku yang dibungkus atas nama “tradisi”, “solidaritas”, atau “proses pendewasaan”, padahal hal-hal seperti itu membuat seseorang merasa tertekan atau tidak nyaman.

Misalnya:

  • candaan yang mengandung unsur seksual,
  • pertanyaan yang terlalu pribadi,
  • tekanan untuk mengikuti sesuatu yang tidak disetujui,
  • atau perilaku yang merendahkan anggota tertentu.

Jika suatu kegiatan membuat seseorang kehilangan hak untuk mengatakan “tidak”, maka budaya tersebut perlu dipertanyakan.

4. Pelecehan yang Terjadi Saat Tidak Ada Orang Lain

Banyak orang berpikir bahwa kekerasan seksual terjadi di tempat yang ramai, padahal tidak semua kekerasan terjadi di tempat ramai.

Kadang perilaku yang tidak pantas justru terjadi ketika hanya ada dua orang atau di ruang yang minim saksi.

Di ruang yang sepi.
Di perjalanan pulang.
Saat konsultasi berdua.
Atau ketika situasi membuat korban sulit meminta bantuan.

Bentuknya bisa berupa:

  • mendekat secara berlebihan,
  • menyentuh tanpa persetujuan,
  • atau tindakan lain yang membuat seseorang merasa tidak aman.

Karena sering terjadi secara tertutup, korban kadang kesulitan untuk menjelaskan apa yang dialaminya atau khawatir tidak akan dipercaya.

“Apa aku terlalu sensitif ya?”
“Apa aku salah paham?”

Padahal rasa tidak nyaman yang dirasakan korban tetap valid dan penting untuk didengarkan.

5. Memanfaatkan Kepercayaan dan Empati

Sebagai manusia, wajar kalau kita merasa peduli dengan orang lain.

Apalagi jika ada teman, senior, atau seseorang yang bercerita tentang masalah hidupnya.

Namun, pada beberapa kasus seseorang berusaha membangun kedekatan dengan menceritakan berbagai masalah pribadi secara terus-menerus hingga membuat orang lain merasa memiliki tanggung jawab untuk selalu hadir.

Awalnya mungkin hanya curhat biasa.
Lama-lama kamu merasa harus selalu tersedia.
Harus selalu mendengarkan.
Harus selalu membantu.

Hubungan seperti ini sering menciptakan ketergantungan emosional yang membuat seseorang sulit menetapkan batasan.

Meskipun berbagi cerita merupakan hal yang wajar, namun hubungan yang sehat tetap membutuhkan batasan yang jelas.

Ketika empati seseorang terus dimanfaatkan untuk menciptakan ketergantungan emosional atau membuka jalan menuju perilaku yang tidak pantas, hal tersebut dapat menjadi tanda adanya relasi yang tidak sehat.

6. Memanfaatkan Kondisi Korban yang Sedang Rentan

Setiap orang pasti pernah mengalami fase burnout.

Lelah karena tugas kuliah.
Sedang stress.
Mengalami masalah keluarga.
Atau merasa kesepian saat merantau.

Sayangnya, kondisi rentan seperti ini terkadang dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

Mereka datang sebagai pendengar.
Sebagai penyelamat.
Sebagai tempat bersandar.

Awalnya mungkin terlihat seperti menawarkan bantuan atau dukungan. Namun, pada akhirnya bantuan tersebut digunakan untuk menekan, mengontrol, atau memaksakan kehendak kepada orang lain.

Misalnya, membuat korban merasa berhutang budi.
Merasa tidak enak menolak.
Atau merasa harus mengikuti keinginan orang tersebut karena sudah banyak dibantu.

Padahal bantuan yang tulus tidak datang dengan tagihan yang tersembunyi.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa bantuan yang tulus tidak disertai tuntutan yang membuat seseorang merasa terpaksa.

7. Memberikan Pujian yang Berlebihan

Jujur deh, siapa sih yang nggak suka diapresiasi? Dipuji?

Namun, di balik itu ada perbedaan yang perlu diketahui!

Pujian yang tulus tentu bisa membuat seseorang merasa dihargai. Namun, ada kalanya pujian digunakan secara berlebihan hingga membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Misalnya:

  • komentar terus-menerus tentang penampilan fisik,
  • gurauan bernuansa seksual,
  • pembicaraan yang mengarah pada hal-hal pribadi tanpa persetujuan,
  • atau menciptakan suasana yang membuat seseorang sulit menolak.

Masalah yang sering kali muncul, pelaku sering kali menggunakan kalimat pelindung

“Aku kan cuma muji.”
“Aku kan cuma bercanda.”

Jika si penerima merasakan risih, malu, tertekan, atau tidak nyaman, maka perasaan tersebut perlu untuk dihormati. 

Perhatian yang sehat seharusnya membuat seseorang merasa nyaman, bukan tertekan atau bingung menghadapi situasi tersebut.

Terus, gimana sih cara kita mengenalinya?

Nggak semua kekerasan seksual terlihat jelas seperti yang sering ditampilkan di film atau berita.

Terkadang bentuknya jauh lebih halus.
Lebih samar.
Bahkan sering dibungkus dengan perhatian, bantuan, candaan, atau tradisi yang sudah lama dianggap normal.

Maka dari itu penting untuk mulai bertanya ke diri sendiri:

  • Apakah situasi ini membuat seseorang merasa tertekan?
  • Apakah ada ketimpangan kuasa?
  • Apakah seseorang merasa sulit mengatakan “tidak”?
  • Apakah batasan pribadi mulai diabaikan?

Kalau jawabannya “iya”, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan lebih jauh.Karena menciptakan lingkungan kampus yang aman bukan cuma soal menghindari kekerasan yang besar dan terlihat jelas. Tapi juga soal sadar pada perilaku-perilaku kecil yang sering dianggap biasa, padahal bisa berdampak besar bagi orang lain.

Kamu Nggak Sendirian!

Setelah membaca artikel di atas, lalu kamu mengingat bahwa kamu pernah mengalami, menyaksikan, atau mengetahui adanya tindakan seperti hal-hal yang disebutkan dan hal tersebut masih menganggu kamu sampai dengan hari ini, perlu diingat bahwa kamu tidak harus menghadapinya seorang diri.

Kamu bisa mencari atau meminta bantuan, mencari bantuan bukan berarti kamu lemah! Tapi, itu merupakan langkah berani untuk menjaga diri sendiri ataupun orang lain.

Jika kamu membutuhkan ruang aman untuk bercerita, mendapatkan dukungan, atau ingin berkonsultasi mengenai situasi yang sedang dialami, kampus menyediakan layanan konseling yang dapat membantu kamu secara profesional dan menjaga kerahasiaan informasi yang disampaikan atau kamu juga dapat melaporkannya melalui Satgas PPKPT (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi).

Karena setiap mahasiswa berhak belajar, bertumbuh, dan beraktivitas di lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

📌 Layanan Konseling Mahasiswa:
https://linktr.ee/studentadvisorybinus

📌 Layanan Pelaporan Satgas PPKPT:
https://bit.ly/binuslisten

 

Referensi:
N.K. Endah Triwijati, Meutia Citra Islamiati, Rachma Diana Arief, & Zulfana Khoirun Nisak. (2024). Pencegahan Pelecehan Seksual di Lingkungan kampus melalui program let’s be a good bystanders. Among : Jurnal  Pengabdian Masyarakat, 6(2), 30–31. https://doi.org/10.51804/ajpm.v6i2.16808

Intan Kusumadewi