Keseruan Workshop AI Hacks In Classroom: Kelola Tugas Tanpa Drama
Siapa bilang ngerjain tugas kuliah, merangkum jurnal tebal, dan bikin presentasi harus selalu diwarnai drama begadang dan overthinking? Di era digital saat ini, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya belajar dengan giat (study hard), tetapi juga belajar dengan cerdas (study smart). Menjawab tantangan tersebut, Student Advisory & Support Center (SASC) BINUS University melalui kolaborasi spesial antara sub-unit Study Resources dan Disability Services, sukses menyelenggarakan workshop interaktif bertajuk AI Hacks In Classroom: Kelola Tugas Tanpa Drama. Kegiatan inspiratif ini digelar pada Jumat, 5 Juni 2026, mulai pukul 13.00 s.d. 15.30 WIB, bertempat di Ruang Aula Lt. 8, BINUS Kampus Anggrek.
Acara ini menjadi wadah kolaborasi yang luar biasa karena menggabungkan mahasiswa penerima beasiswa dan rekan-rekan mahasiswa berkebutuhan khusus dalam satu ruang belajar yang setara. Sambutan hangat dari Kak Ria Devita selaku SASC Manager menjadi pembuka kegiatan. Beliau menekankan pesan esensial bahwa kehadiran Artificial Intelligence (AI) di kampus bukanlah untuk menggantikan nalar mahasiswa, melainkan sebagai “pendamping” yang siap membantu menjembatani berbagai kendala belajar bagi seluruh Binusian. Keseruan berlanjut pada sesi pemaparan materi inti oleh Prof. Dr. Ir. Tanty Oktavia, S.Kom., MM., IPM. Alih-alih berteori rumit, Prof. Tanty langsung membagikan “hacks” alias strategi praktis menggunakan AI untuk keperluan akademik.
Penyampaian materi oleh Prof. Dr. Ir. Tanty Oktavia, S.Kom., MM., IPM
Meng-highlight materi Prof. Tanty dimana beliau menekankan bahwa kualitas hasil AI sangat bergantung pada teknik prompting 4 langkah, yakni menentukan Role, Task, Context, dan Format agar jawaban yang diberikan maksimal dan tepat sasaran. Selain itu, pentingnya menjaga etika dan integritas akademik, AI boleh digunakan untuk memantik ide atau mengoreksi tata bahasa, tetapi mahasiswa dilarang keras mengklaim hasil AI sebagai karya utuh mereka maupun mengunggah data rahasia. Pada akhirnya, Prof. Tanty mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu yang bisa “berhalusinasi” dan bukan pengganti nalar manusia, sehingga pemikiran kritis, kreativitas, serta kewajiban untuk memverifikasi informasi dengan jurnal terpercaya tetap menjadi tanggung jawab tak tergantikan dari seorang mahasiswa.
Melanjutkan materi, sesi praktik membuat pengetahuan yang sudah diberikan menjadi pengalaman riil yang bermanfaat. Di sesi ini, kolaborasi antar mahasiswa benar-benar terasa. Dipandu oleh instruksi yang ditayangkan, para peserta mencoba menerapkan teknik prompting ke dalam tugas nyata mereka melalui diskusi aktif yang dilakukan. Tugas yang tadinya butuh waktu berjam-jam untuk disusun kerangkanya, berhasil diselesaikan secara efisien! Beberapa peserta pun dengan percaya diri maju untuk melakukan presentasi hasil praktik mereka yang lebih rapi, terstruktur, dan tuntas dalam waktu singkat.
Antusiasme para peserta dalam mengikuti workshop
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan hadiah untuk peserta teraktif, suvenir bagi pembicara, dan pastinya sesi foto bersama yang memorable. Terlaksananya kegiatan ini diharapkan menjadi bekal dan juga pengembangan diri yang baik bagi seluruh Binusian terlebih disampaikan melalui pakar keilmuan yang tepat. Melek teknologi menjadi langkah cerdas dan etis bagi potensi Binusian saat ini. Melek teknologi menjadi langkah cerdas dan etis bagi potensi Binusian saat ini. Melek teknologi menjadi langkah cerdas dan etis bagi potensi Binusian saat ini. Melek teknologi menjadi langkah cerdas dan etis bagi potensi Binusian saat ini. Melek teknologi menjadi langkah cerdas dan etis bagi potensi Binusian saat ini. Rasanya melalui artikel tergambar serunya dan bermanfaatnya kegiatan ini, jadi bagi para Binusian lainnya yang belum berkesempatan hadir dapat mencoba terlibat pada program Development selanjutnya. ciptakan kehidupan perkuliahan yang efektif, inklusif, dan pastinya tanpa drama! 🚀