Apa Itu Bystander? Kenali Peran yang Bisa Bikin Kampus Lebih Aman
Di lingkungan perguruan tinggi, tentu sebagai mahasiswa kita mengharapkan lingkungan kampus yang aman, tenang, dan nyaman. Namun, terkadang ada hal-hal yang berbanding terbalik dengan yang diharapkan oleh mahasiswa. Realitanya, di perguruan tinggi, tempat yang seharusnya aman bagi seluruh mahasiswa justru kerap terjadi kasus kekerasan. Kekerasan yang terjadi pun dapat berupa kejadian langsung maupun di dalam ruang digital.
Pernah nggak kamu melihat teman direndahkan di kelas, ada yang dibentak di organisasi, dijadikan bahan bercandaan terus-menerus, atau bahkan melihat tindakan yang bikin orang lain nggak nyaman… tapi bingung harus ngapain?
Di situasi kayak gitu, sebenarnya kamu sedang berada di posisi yang disebut sebagai bystander.
Emang Bystander Itu Apa, Sih?
Dalam kasus kekerasan yang terlibat bukan hanya korban dan pelaku, tetapi sering juga ada saksi yang melihat tanpa terlibat langsung di lokasi kejadian. Mereka biasa disebut dengan bystander. Secara lengkapnya, apa sih bystander itu?
Menurut Banyard (2015), bystander merupakan seorang saksi dari perilaku negatif, seperti keadaan darurat, kejahatan, atau pelanggaran peraturan. Bystander sebenarnya memiliki peluang untuk bertindak. Peran dari bystander sendiri beragam, ada yang memilih untuk membantu, mendukung perilaku pelaku, dan ada yang memilih untuk diam tidak melakukan apa-apa. Adanya perbedaan respon ini menentukan peran dari bystander tersebut. Bystander yang bertindak saat terjadi kejadian disebut dengan upstanders.
Masalahnya, masih banyak orang yang berpikir:
- “Bukan urusan gue.”
- “Takut ikut kena.”
- “Paling bercanda doang.”
- “Nanti dibilang sok ikut campur.”
Padahal kadang, satu respon kecil dari orang sekitar bisa bikin korban merasa nggak sendirian.
Kira-Kira Penyebabnya Apa, Sih?
Di balik fenomena bystander, beberapa penelitian menjelaskan bahwa terdapat penyebab dari mengapa seseorang itu lebih memilih “diam” ketika menjadi saksi dari suatu kejadian kekerasan di sekitar mereka. Mari simak tiga faktor penyebab bystander effect:
1. Hambatan Audiens (Audience Inhibition)
Di proses pertama, kehadiran orang lain kadang bikin kita jadi insecure buat nolong. Takut diliatin, takut dinilai negatif, atau malah takut salah paham kalau ternyata situasinya bukan darurat. Akhirnya, rasa malu itu bikin kita mikir dua kali sebelum bergerak.
2. Pengaruh Sosial (Social Influence)
Fenomena bystander effect bikin orang kadang jadi pasif. Situasi yang ambigu bikin kita nunggu orang lain buat ‘ngebaca’ kondisi. Kalau orang lain diem aja, kita jadi mikir ‘oh, kayaknya nggak serius-serius amat’. Akhirnya, kehadiran banyak orang malah bikin kita ragu buat nolong.
3. Penyebaran Tanggung Jawab (Diffusion of Responsibility)
Selain itu, ada juga yang namanya diffusion of responsibility. Tanggung jawab nolong jadi kayak ‘dibagi rata’ ke semua orang yang ada di situ. Jadi, beban psikologisnya berkurang, dan orang cenderung mikir, ‘ah, pasti ada yang lain yang bakal bantu’. Hasilnya? Banyak yang milih nggak gerak, karena merasa tanggung jawabnya udah pindah ke orang lain.
Terus, Kalau Jadi Bystander Harus Ngapain?

Ini pertanyaan paling penting.
Karena jadi bystander bukan berarti harus langsung jadi “pahlawan”. Yang penting adalah tetap peduli dan nggak ikut menormalisasi kekerasan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan mahasiswa ketika menjadi bystander:
1. Jangan Ikut Menertawakan atau Mendukung
Sering kali kekerasan terjadi karena lingkungan sekitar ikut menganggapnya lucu atau biasa saja. Padahal, candaan yang merendahkan, mempermalukan, atau membuat orang lain nggak nyaman tetap bisa memberikan dampak bagi korban.Jika belum bisa membantu secara langsung, setidaknya jangan ikut memperparah situasi. Jangan ikut menertawakan, merekam, menyebarkan, atau mendukung perilaku yang salah hanya demi ikut arus tongkrongan.
2. Pastikan Korban Nggak Sendirian
Banyak korban kekerasan memilih diam karena takut dihakimi, nggak dipercaya, atau merasa nggak ada yang peduli. Padahal, kehadiran satu orang yang mau mendengarkan bisa sangat berarti.
Nggak harus selalu memberi solusi besar. Hal sederhana seperti:
- “Lo gapapa?”
- “Mau cerita nggak?”
- “Gue ada kalau lo butuh bantuan.”
bisa membantu korban merasa lebih aman dan didukung.
3. Cari Bantuan atau Laporkan
Kalau situasinya serius atau membahayakan, jangan ragu mencari bantuan ke pihak kampus, dosen, satgas, atau pihak terpercaya lainnya.
4. Utamakan Keamanan
Membantu bukan berarti membahayakan diri sendiri. Cari cara aman untuk merespon situasi.
5. Berani Peka dan Peduli
Kadang masalah terbesar bukan karena nggak ada yang lihat, tapi karena semua orang memilih diam.
Padahal perubahan bisa dimulai dari kepedulian kecil. Mulai dari berani menyadari bahwa sesuatu itu salah, nggak menormalisasi perilaku toxic, sampai berani menunjukkan dukungan kepada korban.
Karena Kampus yang Aman Itu Dibangun Bersama
Menjadi bystander bukan soal harus selalu turun tangan secara langsung, melainkan soal kesadaran bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun bukan hal yang normal untuk didiamkan.
Mulai dari hal kecil seperti menghargai orang lain, nggak menormalisasi perilaku toxic, sampai berani peduli terhadap sekitar, semua itu bisa membantu menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman, suportif, dan nyaman untuk semua mahasiswa.
Referensi:
- N.K. Endah Triwijati, Meutia Citra Islamiati, Rachma Diana Arief, & Zulfana Khoirun Nisak. (2024). Pencegahan Pelecehan Seksual di Lingkungan kampus melalui program let’s be a good bystanders. Among : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6(2), 32–32. https://doi.org/10.51804/ajpm.v6i2.16808
- Fahmi, A. B. (2017). Non Empiris. Dari Mengabaikan ke Menolong: Tinjauan Study Bystander-Effect. Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris, 3(1), 46–47.