Denim Day @ BINUS: Bareng-Bareng Lawan Victim Blaming
Pelaksanaan Denim Day di BINUS University menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Satgas PPKPT BINUS secara serentak di berbagai kampus, yaitu Greater Jakarta & Binus Square, Bandung, Malang, Semarang, dan Medan, dengan melibatkan partisipasi aktif dari mahasiswa serta civitas akademika. Pelaksanaan Denim Day di BINUS University digelar serentak pada 29 April 2026 di kampus Greater Jakarta dan BInus Square, Malang, Semarang, dan Medan. Sementara itu, kegiatan kampus Binus Bandung berlangsung sehari setelahnya, yakni 30 April 2026. Perbedaan waktu pelaksanaan ini tidak mengurangi makna gerakan, melainkan menjadi strategi untuk memastikan partisipasi optimal di setiap lokasi. Dengan demikian, esensi kampanye tetap terjaga, memperkuat solidaritas, meningkatkan kesadaran, dan menolak segala bentuk kekerasan seksual.
Denim Day sendiri merupakan gerakan internasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap isu kekerasan seksual sekaligus menolak budaya menyalahkan korban (victim blaming). Gerakan ini berawal dari sebuah kasus di Italia pada 1990-an, ketika pengadilan membebaskan pelaku dengan alasan korban mengenakan jeans ketat. Putusan tersebut memicu gelombang protes luas dan melahirkan tradisi penggunaan denim sebagai bentuk solidaritas bagi para penyintas. Sejak saat itu, setiap minggu ke empat di bulan April dilakukan kegiatan Denim Day dengan menggunakan denim dipakai sebagai pernyataan tegas bahwa pilihan pakaian tidak pernah bisa dijadikan pembenaran atas tindakan kekerasan. Melalui simbol penggunaan denim, kampanye ini mengajak mahasiswa dan civitas akademika untuk menunjukkan solidaritas kepada para penyintas serta menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan.
Dalam pelaksanaannya, Satgas PPKPT menghadirkan booth interaktif di setiap kampus sebagai pusat kegiatan utama. Booth ini tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga ruang edukasi yang komunikatif dan mudah dipahami mahasiswa. Di sana, pengunjung bisa mendapatkan penjelasan tentang sejarah Denim Day, makna simbol denim, serta kaitannya dengan isu kekerasan seksual di lingkungan kampus. Selain itu, tim Satgas memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan seksual yang sering tidak disadari, serta menjelaskan mekanisme pelaporan dan pendampingan yang tersedia di BINUS University. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka memahami isu tersebut sekaligus berani mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah Wall of Respect, sebuah media interaktif yang memberi ruang bagi pengunjung untuk menuliskan pesan dukungan, harapan, maupun refleksi terkait isu kekerasan seksual. Beragam pesan yang muncul mencerminkan empati dan solidaritas, sekaligus menegaskan bahwa dukungan terhadap penyintas bisa dimulai dari langkah sederhana. Dinding ini menjadi simbol kekuatan suara kolektif mahasiswa dalam melawan stigma serta membangun budaya kampus yang lebih suportif dan peduli.

Selain itu, pengunjung yang ikut berpartisipasi juga menerima souvenir bertema melawan kekerasan seksual berupa stiker dan keychain. Souvenir ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga berfungsi sebagai media kampanye yang bisa dibawa ke mana saja. Harapannya, benda kecil tersebut menjadi pengingat akan pesan Denim Day sekaligus memperluas jangkauan awareness, sehingga nilai-nilai yang diusung tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan terus hidup dalam keseharian mahasiswa.
Melalui pelaksanaan Denim Day, Satgas PPKPT BINUS University menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan seksual adalah tanggung jawab bersama. Kampanye ini tidak hanya menekankan pentingnya peningkatan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan sikap serta budaya di lingkungan kampus. Dengan adanya partisipasi aktif dari mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika, diharapkan tercipta ruang yang lebih aman, penuh empati, dan berani dalam menolak segala bentuk kekerasan.