Bukan hanya Kentang Goreng, Yuk Kenalan sama FRIES sebagai Konsep Consent!

Di tengah ramainya perbincangan mengenai hubungan yang sehat dan kesadaran tentang batasan personal, maka dibutuhkan sebuah persetujuan yang sering disebut dengan consent. Mungkin kalian pernah mendengar mengenai consent, tapi tahukah kalian apa itu consent?

Menurut artikel Yayasan Kesehatan Perempuan, consent merupakan bentuk pernyataan sikap setuju maupun tidak setuju untuk terlibat dalam kegiatan seksual. Consent sendiri diberikan secara sukarela, tanpa adanya paksaan atau manipulasi. 

Meski terdengar sederhana, nyatanya konsep mengenai consent ini masih belum banyak yang memahami, lho. Ketika seseorang diam atau tidak mengatakan “tidak”, bukan berarti bahwa seseorang tersebut setuju. Sayangnya, masih banyak orang yang mengabaikan consent karena mereka berada dalam situasi atau kondisi yang biasanya mereka anggap “normal”. 

Situasi “normal” seperti apa sih yang biasanya sering diabaikan dalam hubungan? Bentuk memaksa pada pasangan karena sudah pacaran lama, terus membujuk sampai merasa tidak enak dan sulit untuk menolak, hingga menganggap diam sebagai bentuk dari persetujuan.

Karena kompleksnya pembahasan mengenai consent, maka hadir konsep FRIES sebagai bentuk mudah untuk memahami mengenai consent. Bukan kentang goreng, FRIES merupakan singkatan dari lima poin penting yang digunakan untuk menjelaskan pentingnya consent dalam sebuah interaksi atau hubungan. Mari kita pahami lebih lanjut mengenai konsep dari FRIES:

  • Freely Given
    Persetujuan diberikan secara sadar/tanpa paksaan. Tidak ada paksaan, tekanan, manipulasi, atau pengaruh alkohol/narkoba. Dan tidak juga dalam pernyataan yang bersifat bujuk rayu.
  • Reversible
    Bisa dibatalkan kapan saja. “Ya” sebelumnya bisa berubah jadi “Tidak” kapan pun.

  • Informed
    Berdasarkan informasi lengkap. Semua pihak harus tahu dengan jelas apa yang disetujui, termasuk konteks, batasan, dan konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan.
  • Enthusiastic
    Persetujuan dengan penuh semangat. “Ya” berarti benar-benar mau, bukan karena merasa terpaksa atau ekspektasi orang lain. Pihak-pihak terkait menunjukkan antusiasme dalam melaksanakan consent yang disetujui bersama.
  • Specific
    Persetujuan untuk hal tertentu. Memberi persetujuan untuk satu bentuk kedekatan ≠ setuju untuk bentuk kedekatan lainnya. Setiap aktivitas membutuhkan persetujuan baru.


Nah teman-teman Binusian, dari kelima poin dalam konsep FRIES di atas, jika dalam hubungan atau interaksi, salah satu poin dari FRIES tersebut tidak terpenuhi, maka dapat dikatakan bahwa
consent tidak sah. Di sisi lain, jika seseorang memberikan persetujuan karena dasar tekanan atau manipulasi, maka consent pun dianggap tidak sah karena telah melanggar poin pertama dalam FRIES, yaitu Freely Given. 

Sebagai mahasiswa, khususnya Binusian, penting untuk mengerti dan memahami konsep dari consent karena penting untuk membangun hubungan yang sehat. Selain itu, konsep consent juga dapat menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan saling menghargai satu sama lain. Dengan consent, kita dapat belajar mengenai pentingnya komunikasi, batasan personal, serta bagaimana menghormati keputusan orang lain dalam setiap bentuk interaksi.

Namun, penting juga untuk dipahami bahwa pembahasan mengenai consent bukan berarti mendorong atau mengarahkan mahasiswa untuk melakukan ataupun menyetujui hubungan romantis tertentu. Edukasi mengenai consent hadir sebagai bentuk peningkatan kesadaran agar setiap individu mampu menjaga diri, memahami hak atas tubuh dan kenyamanannya sendiri, serta membangun relasi yang sehat dan bertanggung jawab di lingkungan sosial maupun akademik.

Dengan memahami konsep seperti FRIES, diharapkan mahasiswa dapat menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih menghargai batasan orang lain, dan mampu menciptakan budaya saling menghormati di kehidupan kampus sehari-hari.


Referensi:

Intan Kusumadewi