Membangun Kampus Aman dari Dalam: Workshop Satgas PPKPT dalam Upaya Memperkuat Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi
Upaya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif saat ini bukan hanya sekadar wacana belaka, melainkan kebutuhan yang kian mendesak di tengah dinamika perguruan tinggi. Hal ini yang menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Workshop Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) BINUS University yang diselenggarakan di Binus @Senayan pada Senin, 20 April 2026. Pelaksanaan workshop ini dibawakan oleh Nathanael Sumampouw, M.Psi., M.Sc., Ph.D., Psikolog dan Noridha Weningsari, M.Psi., Psikolog dari Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor). Kegiatan ini membuka ruang diskusi yang tidak hanya membahas konsep, tetapi juga menggali praktik nyata dalam menangani berbagai bentuk kekerasan di lingkungan kampus, baik yang tampak jelas hingga yang sering terabaikan karena dianggap “biasa”.
Dalam workshop ini, anggota Satgas diajak untuk melihat bahwa kekerasan di perguruan tinggi memiliki cakupan yang luas, tidak hanya fisik, tetapi juga verbal, psikis, hingga bentuk-bentuk eksploitasi yang berakar pada relasi kuasa. Kesadaran ini menjadi dasar yang penting dalam upaya pencegahan. Kampus didorong untuk tidak hanya reaktif terhadap kasus yang ada, tetapi juga bersikap proaktif dengan saling menghormati melalui edukasi yang berkelanjutan. Pencegahan ini bukan sebagai langkah tambahan, melainkan sebagai fondasi utama dalam menciptakan ruang yang aman bagi seluruh civitas akademika.
Workshop ini juga membahas lebih dalam bagaimana sebuah laporan kekerasan ditangani. Prosesnya disusun sistematis, dimulai dari penerimaan laporan hingga pemeriksaan yang melibatkan pelapor, korban, saksi, dan terlapor. Setiap tahapan dilakukan secara profesional dengan dokumentasi yang rapi, termasuk pada pengumpulan bukti berupa dokumen tertulis, rekaman suara, maupun bukti digital seperti tangkapan layar. Hal ini menegaskan bahwa penanganan kasus tidak dilakukan dengan sembarangan, melainkan dengan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di workshop ini, yang ditekankan bukan hanya mengenai prosedur, tetapi juga pendekatan yang digunakan Satgas dalam proses investigasi. Penanganan terhadap kasus kekerasan menuntut sensitivitas tinggi, sehingga empati digunakan sebagai prinsip dasar. Satgas diingatkan bahwa proses pemeriksaan harus bebas dari praktik victim blaming, dilakukan secara tertutup untuk menjaga privasi, dan memastikan bahwa tidak berhadapan langsung dengan terlapor. Pendekatan ini penting untuk menciptakan rasa aman, sehingga korban dapat memberikan keterangan tanpa merasa takut.

Selain pembahasan mengenai proses investigasi, workshop ini juga menekankan perhatian kepada korban setelah kejadian. Dampak yang ditimbulkan dapat berlanjut sampai dengan bentuk trauma psikologis yang juga membutuhkan penanganan serius. Oleh karena itu, pendampingan juga menjadi bagian dari penanganan kasus. Bentuk dukungan dapat berupa konseling psikologis, bantuan selama proses hukum atau administratif, hingga upaya pemulihan agar korban dapat kembali menjalani aktivitas akademik dan sosial dengan rasa aman.
Workshop ini juga menyoroti pentingnya melihat hasil akhir kasus secara berimbang. Jika laporan terbukti, Satgas akan memberikan rekomendasi sanksi sesuai sesuai dengan tingkat pelanggaran. Namun, sistem ini tentu tidak semata hanya fokus pada penghukuman, tetapi juga evaluasi dan reintegrasi. Dalam kondisi tertentu, terlapor yang telah menjalani sanksi dapat kembali ke lingkungan kampus melalui mekanisme terkontrol. Sebaliknya, jika laporan tidak terbukti, pemulihan nama baik menjadi prioritas yang harus dijalankan secara adil.
Keseluruhan rangkaian workshop ini menegaskan bahwa menciptakan kampus yang aman dan inklusif bukan hanya tugas Satgas PPKPT, melainkan bentuk tanggung jawab seluruh civitas akademika. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang lebih peka, suportif, dan responsif terhadap berbagai bentuk kekerasan.
Melalui workshop penguatan kapasitas anggota satgas PPKPT Binus University, terlihat jelas bahwa kampus yang aman itu butuh proses yang konsisten, kompak, dan berani berubah. Prestasi akademik penting, namun kampus ideal itu tempat yang aman dan manusiawi untuk semua.