Learning Object: Creative Writing “Menulis: Sebuah Pencarian” (IND)

Menulis: Sebuah Pencarian

Oleh: Dr. Juneman Abraham, S.Psi.

Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara

PENGANTAR

Salah satu hambatan menulis bagi orang Indonesia adalah terbiasa berbicara guna mengungkapkan gagasan. Budaya lisan ini tidak salah, namun peribahasa Latin mengatakan, “Verba Volant, Scripta Manent“. Artinya, kata-kata akan menguap. Hanya yang dituliskan yang permanen.

Apakah kamu seorang mahasiswa yang mulai sering merenungkan makna hidupmu? Apapun makna hidupmu, jika kamu tuliskan, maka pemaknaanmu tersebut akan selalu dapat dipelajari oleh siapapun yang menemukannya melalui internet, buku, atau medium lain. Dalam tulisan, tergambarlah perjuanganmu, konsepmu, mimpi-kesedihan-harapanmu, yang akan memberikan warna kepada siapapun yang membacanya.

Semua jenis tulisan pada dasarnya berpeluang untuk mewariskan makna kepada dunia, tidak terkecuali tulisan ilmiah. Mau yang konkret? Bacalah sebuah skripsi mahasiswa Psikologi yang berjudul Derita Cinta Tak Terbalas, yang kini menjadi sebuah buku. Ini contoh sebuah penelitian kualitatif, yang melibatkan narasi atau kisah. Tulisan ilmiah ini berguna buat kita untuk berani mengambil sikap atas rasa sakit hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Bagaimana dengan penelitian kuantitatif, yang melibatkan angka-angka dan statistik? Masih ingat situasi negara kita di awal tahun 2020? Pada bulan-bulan itu, banyak orang penting (diantaranya pejabat publik) di negara ini menyangkal eksistensi Virus Covid-19? Ingatkah kamu bahwa ternyata seorang Guru Besar dari Universitas Harvard sudah mengumumkan hasil penelitian yang diterbitkan dalam sebuah peladen pracetak (preprint server) yang bernama Medrxiv? Ia menyatakan bahwa, berdasarkan analisis statistik regresi terhadap data tingkat perjalanan orang Indonesia ke China, virus ini semestinya sudah ada di Indonesia. Kalau belum ingat, bacalah beritanya di sini: “‘It’s meant to help’: Harvard professor responds after government dismisses study on undetected coronavirus cases“.

Kalau saja bangsa kita menyikapi dengan lebih serius dan bijaksana terhadap laporan penelitian tersebut, dengan membuat berbagai langkah pencegahan dini, barangkali kita akan dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa!

KOMPONEN TULISAN YANG BAIK

Syarat sebuah tulisan memiliki keilmiahan yang baik tentu sudah sering kamu dengar. Bahkan kamu mempelajarinya secara formal dalam mata kuliah Metodologi Penelitian. Namun di muka tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk memiliki sebuah elemen implisit dalam diri kita, yang namanya Craftmanship.

CRAFTMANSHIP

Pernahkah kamu melihat sebuah lukisan, patung, barang kerajinan, atau pertunjukan teater yang memukau dirimu? Sampai kamu terserap ke dalam lukisan atau patung itu, karena begitu detail, begitu dalam, dan begitu … tak terkatakan keindahannya? Ya, itulah buah tangan dari Craftmanship yang saya maksud. Craftmanship adalah kombinasi unik dari hasrat & determinasi, penguasaan, dan koneksi.

Pertama-tama, kita perlu memiliki hasrat, passion untuk melukiskan sebuah hal atau fenomena, menjelaskannya, bahkan meramalkannya. Biasanya ide-ide kreatif mengenai sebuah topik berangkat dari hasrat-hasrat itu. Ambil contoh, ketika saya membaca kegelisahan masyarakat mengenai korupsi yang merajalela di negeri ini, karena mereka terdampak langsung atau tak langsung oleh korupsi, muncul empati dan hasrat saya untuk menelaah lebih jauh. Berita tentang korupsi juga sering tampak dalam halaman satu dari surat kabar nasional. Saya turut gelisah dan ingin ikut ambil bagian dalam menjelaskannya secara ilmiah.

Apakah korupsi disebabkan oleh sifat/kepribadian seseorang? Atau karena tekanan situasi? Atau kombinasi unik dari sifat dan situasi? Bagaimana saya bisa meramalkan kalau ada seorang yang dikenal saleh di lingkungan rumah dan sekolahnya, lalu bekerja dalam lingkungan yang longgar standar moralnya, apakah dia akan berbuat korup? Berapa persen peluang terjadinya?

Ketika saya menjadi mahasiswa S1 seperti kalian, saya juga memiliki sebuah kegelisahan. Pada tingkat akhir perkuliahan, saya bermagang di sebuah perusahaan, dan menjumpai kenyataan bahwa ada rekan-rekan Muslim saya sedang berjuang antara memakai dan melepas jilbab. Baik memakai maupun melepas jilbab, ternyata mengundang respons dan tantangan dari lingkungan yang tidak sederhana. Berdasarkan hal tersebut, saya memiliki passion untuk melukiskan perjuangan tersebut, dan saya tuangkan dalam skripsi saya. Lukisan saya tersebut akhirnya terbit, lho, sebagai sebuah buku penelitian berjudul, Psychology of Fashion. Ketika saya diwawancarai oleh berbagai media massa mengenai motivasi menulis buku ini, saya katakan bahwa ini semua berangkat dari empati. Saya kutipkan (Gambar 1) sebuah hasil wawancara di koran Media Indonesia (25/9/2010), ya, teman-teman (Liputan media lainnya dapat dilihat dalam tautan ini). Semoga menjadi pendorong buat kalian untuk memunculkan hasrat dan gagasan terpendam kalian.

Itu berbicara tentang hasrat. Di samping hasrat, kita memerlukan determinasi (dari istilah ‘to determine’ yang artinya ‘menentukan’). Ada sebuah pameo bahwa “Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai!”. Sebagus apapun ide kita, secanggih apapun teknik yang kita rancang untuk melakukan penelitian, jika tidak selesai dan hanya teronggok secara virtual di dalam laptop, apalah artinya? Nah, apakah kita punya kemauan kuat dalam untuk “menentukan” diri kita sendiri bahwa tulisanku akan selesai dalam rentang waktu tertentu?

Hasrat dan determinasi perlu. Kendati demikian, tanpa penguasaan, kefasihan berbahasa dan kefasihan toretis dan metodologis, kita akan kesulitan membuat sebuah tulisan ilmiah. Bagi kalian yang merasa perlu untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya, kompetensi metodologisnya, jangan ragu untuk mengikuti berbagai informasi atau kursus daring (online courses) mengenai ini. Banyak kok yang gratis di Internet. Yuk, sisihkan, investasikan waktu kalian untuk itu.

Mengapa kefasihan akan dua hal tersebut (bahasa, teoretis-metodologis) penting? Hal ini karena tulisan ilmiah tentu menggunakan konsep-konsep ilmiah. Konsep-konsep ilmiah berasal dari komunitas ilmiah. Bukan istilah-istilah yang kita karang sendiri!

Sebagai contoh, mahasiswa skripsi yang saya bimbing ingin meneliti, mengapa mahasiswa ilmu sosial ada yang tidak suka, dan ada juga yang cinta terhadap statistik? Apa yang bisa memprediksikan perasaan-perasaan ini? Kemudian ia mengamati sebuah gejala. Ternyata kalau belajar Statistika, kita akan menghadapi logika-logika baru, rumus-rumus baru, yang tidak selalu dapat kita cerna seketika itu juga. Kita dilanda perasaan tidak pasti, ketika belajar Statistika. Ada teman-teman yang kurang tahan terhadap kebaruan dan ketidakpastian ini. Ada juga teman-teman yang lebih tahan, sehingga bersedia mengendapkan dan mengolah pelajaran yang diterimanya. Nah, apa ya, konsep yang tepat untuk mewakili gejala seperti ini? (Oh, ternyata, namanya: Toleransi terhadap Ambiguitas!). Kosa-kata “toleransi terhadap ambiguitas” tidak akan muncul di kepala kita apabila kita jarang atau malas membaca literatur ilmiah. Kita menjadi terasing dari dunia ilmiah karena kita kurang membaca dan miskin kosa katanya.

Gambar 1. Latar belakang meneliti dan menulis ilmiah

Literatur ilmiah memang merupakan wakil atau representasi gejala atau kenyataan di sekitar kita. Memang ada banyak wakil atau representasi kenyataan, bukan hanya literatur ilmiah. Misalnya, peribahasa. Mungkin kita mengenal peribahasa, “Bagai menegakkan benang basah”, yang mewakili kenyataan: Melakukan hal yang sia-sia. Film juga dapat mewakili kenyataan. Demikian pula cerpen yang disebut-sebut “berdasarkan kisah nyata”.

Akan tetapi, literatur ilmiah memiliki kelebihan tertentu, yaitu adanya bangunan berpikir logis, rasional, yang didukung dengan bangunan fakta-fakta di lapangan. Menariknya juga, literatur ilmiah selalu bisa diifilmkan sampai dengan dipantunkan. Oh iya, mengapa saya sebut sebagai “bangunan”? Kita memang dapat membayangkan literatur ilmiah sebagai sebuah bangunan. Artinya, kita perlu menempatkan diri sebagai salah satu dari unsur bangunan (Ada juga perbandingan yang lebih ekstrim: penelitian dan tulisan ilmiah kita adalah sebuah titik kecil yang menyumbang pada lautan luas). Sebuah pemeo menyatakan, “There’s nothing new under the sun.” Tidak ada hal yang benar-benar baru di kolong langit ini. Ketika kita mulai menulis ilmiah, kita berangkat dari sebuah kesadaran bahwa kita tidak sedang “Menemukan kembali roda” (reinventing the wheel), membuat bangunan baru, melainkan menggunakan atau menilai roda-roda yang sudah ada, untuk membuat atau menemukan “gerobak”, “becak”, “mobil”, “kapal laut”, atau “pesawat” kita sendiri. Konkretnya, melalui tulisan ilmiah, kita sesungguhnya sedang berdialog dengan penulis-penulis lain secara virtual, baik penulis yang masih hidup, maupun penulis yang sudah meninggal dunia. Kita menggunakan pengetahuan dan temuan penelitian mereka sebagai bahan atau material untuk menyusun penelitian dan tulisan ilmiah kita.

Oleh karenanya, kamu perlu rajin-rajin membaca, ya! Carilah bacaan-bacaan yang bermutu, supaya ide dan tulisanmu juga bermutu. Orang Barat bilang, “Garbage in, garbage out!”. Jika hal-ihwal yang masuk (ke kepala kita) adalah informasi atau pengetahuan “sampah” (misalnya, misinformasi, disinformasi, pengetahuan yang keilmiahannya tidak dapat dipertanggungjawabkan), maka sulit mengharapkan bahwa yang tertuang (dalam tulisan ilmiah kita) adalah emas.

Melalui tulisan ilmiah, sebagai bagian dari craftmanship, kita ingin terhubung dengan orang lain, penulis lain, komunitas lain. Kamu menyumbangkan sesuatu kepada komunitasmu, masyarakatmu. Hasil penelitianmu tentunya tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi syarat kelulusan Sarjana, melainkan juga untuk menjadi bagian dari bangunan atau lautan luas peradaban manusia yang berbasis pengetahuan ilmiah. Jadi, ingatlah senantiasa identitasmu ketika menulis ilmiah: Kamu adalah pengawal peradaban manusia!

IMRAD

Saya telah menjelaskan unsur-unsur dari Craftmanship. Sekarang kita akan masuk ke komponen-komponen yang lebih eksplisit dan teknis dari sebuah tulisan ilmiah, yaitu IMRAD (Introduction, Method, Results, and Discussion).

Kamu boleh memulai tulisan dari mana saja, kalau penelitiannya sudah pada tahap lanjut (kamu sudah mengambil data dan melakukan analisis statistiknya, misalnya). Akan tetapi, kalau kamu baru akan memulai, atau sedang menulis proposal penelitian, saran saya adalah kamu mulai dengan bagian Introduction atau Pendahuluan.

Peta konsep (mind map) dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk “corat-coret gagasan”. Setiap kali memiliki gagasan baru, coret di HP kamu, atau laptop kamu. Bisa juga kamu merekam suaramu sendiri. Ingat bahwa kapasitas kita untuk mengingat adalah terbatas. Kita gampang lupa. Di samping itu, ide-ide kreatif biasanya memiliki momen-momennya sendiri untuk muncul.

Pada saat tertentu, ide-ide kita bermunculan begitu melimpahnya. Pada saat yang lain, kita seperti kekeringan gagasan. Oleh karenanya, jika sedang muncul, jangan sia-siakan; segera catat, segera coret, segera rekam. Kamu akan mengumpulkan dan mengkompilasinya kelak sebagai sebuah mozaik indah dalam tulisan ilmiah. Catatan saya adalah, kemunculan ide kreatif yang tampaknya tidak teratur itu tadi jangan dipandang sebagai sebuah peristiwa mistik, ya! Kemunculan ide kreatif tetap memerlukan masukan. Masukan itu berasal dari mana? Ya, berasal dari observasi dan bacaan kamu, juga dari ngobrol-ngobrol dengan orang lain. Semakin banyak masukan yang baik atau bermutu, maka dimensi internal dalam diri kamu akan mengolahnya, baik sadar maupun tak sadar! Inilah yang disebut dengan masa pengendapan, masa inkubasi gagasan, sebelum ia cukup matang untuk menjadi gagasan. Kalau tidak ada bahan-bahannya, apa yang mau diendapkan? Ide dari sebuah gagasan ilmiah tidak akan hadir dengan cara mencari wangsit dengan duduk di bawah sebuah pohon kamboja!

Guna memulai sebuah Pendahuluan (Introduction), kamu perlu mempertanyakan mengapa kamu ingin tahu sesuatu, dan mengapa penting untuk mengetahuinya sekarang juga? Pendahuluan adalah sebuah racikan antara amatan dan literatur. Misalnya, kamu mengamati adanya gejala pembelian secara impulsif. Bahkan, boleh jadi, kamu sendiri mengalami gejala ini. Kamu juga mungkin mencermati adanya data statistik yang “mengkhawatirkan” di kalangan anak muda mengenai gejala ini. Kalau pembelian impulsif ini tidak berhasil dijelaskan, kamu beranggapan bahwa gejala ini akan merugikan banyak anak muda dari sisi finansial, membuat mereka boros, terlibat hutang, bahkan dampak lebih jauh lainnya (misalnya, terlibat sebagai pengedar narkoba untuk memperoleh uang membeli barang-barang). By the way, Gambar 1 yang saya ceritakan sebelumnya, juga dapat menjadi bagian dari sebuah Pendahuluan (Introduction).

Kamu mulai mencari di Google Scholar dengan memasukkan kata kunci impulsive buying atau membeli impulsif.  Kamu menuliskan apa saja yang sudah diteliti oleh orang lain, apakah kamu ingin mengulangi penelitian tersebut (replikasi) ataukah kamu ingin melengkapi penelitian itu (replikasi plus). Sebagai contoh, kamu ingin menjelaskan gejala pembelian impulsif dengan menggunakan konsep orientasi budaya seseorang.

Kamu punya pendapat atau posisi demikian, karena kamu, setelah membaca-baca melalui Google Scholar, merasa belum puas dengan penjelasan para penulis mengenai pembelian impulsif yang dikaitkan dengan konsep-konsep kepribadian, sikap, dan gangguan emosi. Kamu boleh menegaskan pendapat kamu itu dengan logika dan dukungan artikel-artikel ilmiah lain (jurnal ilmiah, prosiding konferensi ilmiah, tesis, disertasi, dan sebagainya): mengapa orientasi budaya memegang peran penting untuk menjelaskan pembelian impulsif seseorang. Selanjutnya, kamu jadikan sebagai sebuah rumusan masalah penelitian (berbentuk kalimat tanya); misalnya: Apakah jenis-jenis orientasi budaya dapat meramalkan kencenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif? Dengan demikian, tujuan penelitianmu sesungguhnya adalah menjawab pertanyaan itu.

Kalau kamu ingat kuliah Filsafat Ilmu/Logika/Metodologi, maka proses tersebut di atas dapat digambarkan sebagai kegiatan mengumpulkan premis-premis ilmiah (hasil-hasil penelitian yang kamu temukan melalui Google Scholar) untuk menyusun konklusi kamu. Konklusi kamu pada dasarnya adalah hipotesis yang akan kamu ajukan untuk diuji.

Dalam contoh di atas, “premis pertama” boleh jadi adalah adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa orientasi budaya berhubungan dengan perilaku impulsif (impulsive behavior) seseorang. Ada juga “premis kedua”, yaitu hasil penelitian yang kamu temukan yang menyatakan bahwa orientasi budaya berhubungan dengan perilaku membeli (buying behavior) seseorang. Berdasarkan kedua “premis” itu, kamu menyusun sebuah “konklusi”, berupa hipotesis atau dugaan rasional, bahwa orientasi budaya dapat menjelaskan perilaku pembelian impulsif (impulsive buying behavior).

Hal-hal di atas adalah contoh sederhana mengenai bagaimana Pendahuluan disusun, mulai dari pengamatan terhadap kondisi lapangan, pengamatan terhadap sejumlah literatur yang terkumpul melalui Google Scholar, dan pengolahan kamu sendiri terhadap “premis-premis” yang terkumpul. Artinya, pada bagian Pendahuluan ini, kamu sudah harus memiliki kerangka berpikir yang jelas, yaitu cara berpikir kamu untuk menjawab masalah yang kamu ajukan dalam penelitian ini.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas banyak mengenai Methods (Metode). Pembahasan hal ini sudah kalian dapatkan dalam kuliah-kuliah dasar tentang filsafat dan metodologi penelitian. Pengulangan hanya akan membuat jenuh tulisan ini.

Kendati demikian, saya akan menegaskan satu hal yang maha penting dalam bagian Metode ini. Yakni: Buatlah bagian Metode-mu seterbuka dan setransparan mungkin. Misalnya, melanjutkan bagian Pendahuluan di atas, kamu ingin tahu apakah orientasi budaya seseorang mempengaruhi pembelian impulsifnya, dan kamu berminat untuk menggunakan kuesioner untuk menjaring datanya.

Oleh karena itu, dalam bagian Metode, kamu perlu secara rinci menuliskan: Siapa sajakah kelompok orang yang akan kamu rekrut atau mintakan kesediaan untuk mengisi kuesionermu, mengapa sih harus kelompok orang itu (bukan kelompok yang lain), apa sajakah kriteria kelompok yang boleh berpartisipasi dalam penelitian kamu, bagaimana desain penelitianmu, siapa sajakah yang boleh menjadi asisten peneliti, bagaimana operasional-konkretnya (misalnya, kalau kamu melakukan eksperimen laboratorium, langkah-langkah persisnya apa sajakah), apa saja isi kuesionermu untuk dapat “mengukur” jenis-jenis orientasi budaya & sekaligus “mengukur” kecenderungan pembelian impulsif seseorang (serta dari manakah butir-butir kuesionermu itu kamu hasilkan), bagaimana kamu akan mengolah data yang akan terkumpul, sampai dengan, bagaimana kamu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang mempengaruhi proses penelitianmu, dan apakah persetujuan etika penelitianmu sudah diperoleh ? (bilamana prosedur penelitianmu berpotensi “menyakiti” atau menimbulkan “luka” pada partisipan, baik fisik maupun batin, sesedikit dan sekecil apapun itu kadar sakit atau lukanya).

Khusus pada bagian Metode, ketika kita menulis ilmiah, kita perlu untuk membayangkan bahwa akan selalu ada orang atau peneliti lain yang akan meragukan penelitianmu. Ya, SELALU! Sebagai peneliti, kamu (eh kita!) perlu memiliki jiwa demokratis, sesuai Sila Keempat Pancasila. Yakni, kita perlu dengan sukarela membiarkan peneliti lain menguji kembali penelitian kita. Caranya? Peneliti lain cukup membaca tulisan kita, dan ia secara mandiri dapat mengulangi proses penelitian kita TANPA ia harus menghubungi kita via email hanya untuk meminta kuesioner (atau penjaring data primer) kita. Di samping itu, buatlah data yang sudah kita kumpulkan itu menjadi accessible 24 jam per hari, 7 hari seminggu. Daringkan (onlinekan)! Inilah yang dalam perkembangan zaman dewasa ini disebut sebagai praktik Sains Terbuka (Open Science). Dengan sains terbuka, kita bersedia untuk diuji oleh siapapun, kita bersedia untuk “dimanfaatkan” oleh siapapun untuk kebaikan bersama (the common good).

Belum lama ini, kita semua dikejutkan dengan pemberitaan bahwa sebuah hasil riset yang mengklaim bahwa obat tertentu tidak efektif untuk Covid19 (sehingga tidak perlu dilanjutkan proyek penelitiannya). Penerbitan hasil riset tersebut harus ditarik-mundur dari sebuah dua buah jurnal ilmiah terkemuka. Mengapa? Saat penulisnya ditinjau (di-review) oleh peneliti lain, dengan meminta data penelitiannya, penulis tersebut mengatakan, “Data Kami merupakan Rahasia Perusahaan”. Perkataan ini menunjukkan bahwa sang penulis tidak bersedia, atau tidak mampu, mempertanggungjawabkan datanya. Hal ini tidak semestinya terjadi dalam sebuah praktik penulisan ilmiah yang baik.

Sudah jelas ya, bahwa dalam penelitian ilmiah yang kamu tuliskan, tidak boleh ada MISTERI di dalamnya?! Semua proses, semua prosedur harus terang-benderang, tidak ada yang disembunyikan. Kamu perlu memiliki jiwa demokratis! Tidak perlu takut ide kamu atau alat penelitian kamu “dicuri” orang lain. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang dengan baik kalau ketakutan semacam ini dikembangkan.

Guna memiliki gambaran, seperti apa bagian Metode itu, saya sertakan Gambar 2, yang diambil dari artikel saya yang berjudul National culture as a correlate of research output and impact. Perhatikan bahwa saya menyebutkan secara jelas sumber data sekunder (data dari pihak lain) yang saya gunakan, alat pengolahan data serta teknik analisisnya.

Gambar 2. Salah satu cara menulis bagian Metode

Kita sekarang melangkah ke bagian Hasil (Results). Silakan untuk mendeskripsikan hasil pengolahan data kita, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.  Sekali lagi, deskripsi. Bagian hasil ini belum melibatkan pemaknaan, penafsiran, interpretasi terhadap data. Hanya menggambarkan hasil-hasilnya. Tabel-tabel dan Gambar-gambar dapat kamu gunakan sebagai sarana untuk memvisualisasikan hasil penelitianmu.

Oh iya, satu hal yang juga penting pada bagian ini adalah penyajian hasil sesuai dengan gaya selingkung (inhouse style) dari medium penulisan kamu. Misalnya, kalau gaya selingkung yang ada dalam template skripsi atau jurnal ilmiah kamu adalah APA (American Psychological Association) Style, maka cara untuk menyajikan Tabel Uji Beda dengan analisis varian satu jalur (one-way ANOVA) adalah sebagaimana tampak pada Gambar 3.

Lihatlah bahwa Tabel tersebut tidak memiliki garis-garis vertikal. Tabel ini juga bukan merupakan hasil copy-paste dari program pengolah data (SPSS, misalnya), melainkan disesuaikan dengan format APA Style. Indeks-indeks statistik seperti M (mean), SD (standard deviation), F, dan p dicetak miring hurufnya. Khusus untuk APA Style, apabila ingin tahu secara lengkap inhouse style-nya, silakan unduh Panduannya secara cuma-cuma di APA Style Blog. Yang perlu diingat, setiap gaya selingkung (inhouse style) memiliki cara menata tulisan masing-masing. Tips dalam hal ini adalah: Ikuti secara ketat inhouse style tersebut.

Gambar 3. Salah satu cara menyajikan hasil penelitian dengan menggunakan bantuan Tabel (Sumber: Sample One-Experiment Paper)

Pada bagian Pembahasan (Discussion), kita memberikan makna atas hasil penelitian kita, serta memaparkan posisi hasil penelitian kita di antara hasil-hasil studi yang lain. Apakah hasil penelitian kita serupa, berbeda, kontras, mendukung penelitian yang dilakukan orang atau kelompok lain? Mengapa demikian? Apakah ada alternatif penjelasan atas hasil-hasil penelitian yang tidak sesuai dengan dugaan awalmu? Apakah ada dukungan literatur (jurnal, prosiding, buku, dll), yang dapat membantumu untuk menguraikan nalarmu dalam memaknai? Apakah hasil-hasil penelitianmu dapat berlaku secara universal – pada berbagai konteks lingkungan, ataukah berlaku secara partikular – hanya  untuk lingkungan yang terbatas? Apakah implikasi dan saran (teoretis, praktis) dari hasil-hasil risetmu? Apakah arti penting tulisanmu bagi satu atau lebih topik dalam ilmu pengetahuan?

Satu hal yang penting diingat pada bagian ini adalah bahwa kita sebagai penulis/peneliti hendaknya tidak memberikan “interpretasi yang berlebihan” terhadap hasil penelitian kita. Tengok lagi Metode yang kita gunakan. Sebagai contoh, kalau kamu melakukan penelitian dengan pengambilan data menggunakan kuesioner (bukan eksperimen laboratorium), maka kamu tidak dapat menuliskan bahwa hasil penelitianmu adalah mengenai hubungan kausal (sebab-akibat); misalnya: jenis-jenis orientasi budaya telah menyebabkan/mengakibatkan/mempengaruhi kecenderangan pembelian impulsif. Paling jauh, kamu hanya dapat menyatakan bahwa jenis-jenis orientasi budaya berhubungan dengan, atau meramalkan/memprediksikan kecenderungan pembelian impulsif. Secara metodologis, hal ini dapat kamu temukan penjelasannya dalam buku-buku Metodologi Riset.

Contoh penulisan Pembahasan untuk hasil penelitian yang bertentangan dengan hasil studi sebelumnya, tampak pada Gambar 4. Kamu dapat mengakhiri pembahasan ini dengan sebuah Kesimpulan (Conclusion).

Gambar 4. Pembahasan hasil penelitian (Sumber: Impulsive buying, cultural values dimensions, and symbolic meaning of money)

Penutup

Dalam proses menulis ilmiah, ada tiga hal yang dapat kita pelajari di sepanjang artikel ini.

Pertama, penemuan topik membutuhkan amatan/kepekaan, bacaan, dan imajinasi.

Kedua, pencarian makna dan kebenaran ilmiah melalui tulisan ilmiah sangat membutuhkan refleksi-diri dan umpan-balik dari orang lain.

Ketiga, penyelesaian tulisan membutuhkan determinasi diri dan penguasaan teknik.

Semoga seluruh artikel ini memberikan spirit serta membantu teman-teman untuk mulai menulis, sekarang juga!

—————–

Assignment

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai topik, lihat video ini : https://bit.ly/CreativeWriting-aSearch-Video

 

 

 

 

 

Sedangkan untuk mendapatkan point SAT, kamu dapat menyelesaikan tugas sebagai berikut:

  1. Ceritakan hasrat dan passion yang kamu miliki untuk meneliti sebuah hal yang menarik perhatianmu!
  2. Buatlah sebuah kerangka tulisan ilmiah dengan mengikuti susunan I-M-R-A-D! (Apabila kamu baru menulis usulan/proposal penelitian, cukup buat I-M saja dari I-M-R-A-D). Silakan menggunakan peta konsep (mind map) apabila dirasa perlu.
  3. Selanjutnya, kamu bisa mengirimkan tugasmu (Creative Writing) ke link berikut : https://bit.ly/UpLoad-Assignment-LearningObject